Mei 2017, tepat ketika selesai
menyapih Aze saya merasakan banyak ketakutan. Bahkan saat itu saya tidak berani
membaca buku, karena takut otak saya nggak nyampe untuk memahami buku itu. Seperti
ada kabut tebal dikepala saya. Sepertinya saya hanya terlatih untuk memikirkan
makan anak, konsistensi poop, permainan edukasi anak dan hal-hal lain yang berpusat
pada anak. Selama kehamilan hingga Aze berusia dua tahun, buku-buku yang saya baca
adalah perihal bagaimana mengurus kesehatan, nutrisi dan tumbuh kembang anak.
dan itupun belum semua saya baca, tahu-tahu buku yang ada sudah gak sesuai
dengan rentang usia Aze.
Saat itu saya jelas merasa
kehilangan diri saya. Saya, yang ketika kuliah bercita-cita menjadi kurator,
kini menyelesaikan membaca sebuah buku saja kok gak yakin? Itu merupakan
pukulan yang berat buat saya. Akhirnya saya mulai memberanikan diri kembali
untuk membaca buku. Pastinya bukan novel-novel penerima nobel sastra yang
intimidatif. Setelah saya menimbang-nimbang buku pertama apa yang mau saya baca,
akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membaca buku Anthony Capella yang
berjudul “The Various Flavours of Coffee”. Mengapa saya memilih buku ini? Sebagai
pecinta kopi, tema ini tentunya sangat menjual. Selain karena suka dengan
desain sampul novel ini, ketebalan dari buku inipun merepresentasikan dua harapan
buat saya. Pertama, mestinya buku setebal ini gak akan jelek-jelek amat. Minimal
banget padat dengan hasil riset setting, suasana dan sejarah dari sana sini
lah. Kedua, ini merupakan cara saya menantang diri saya untuk menamatkan sebuah
buku novel yang panjang.
Untunglah saya memutuskan untuk membaca
buku ini. Karena asumsi pertama saya terbukti benar, setidaknya dari buku ini
saya bisa mengetahui bagaimana kopi dan pertumbuhan kedai kopi mampu
membangkitkan budaya berdiskusi sehingga mempercepat terjadinya revolusi
pemikiran di Inggris (tentu banyak poin menarik lainnya yang hadir dari buku
ini, tapi agaknya akan butuh ada di bahasan berbeda). Poin selanjutnya yang
paling penting buat saya adalah “The sense of achieving something”. Perasaan bahwa
saya ternyata masih mampu loh menamatkan sebuah buku, dan lebih jauh, bahwa
saya mampu melakukan hal-hal lain yang dulu saya lakukan sebelum menjadi ibu,
bukan hanya berkutat melakukan hal teknis mengurus rumah tangga kemudian
menjadi terlalu lelah secara fisik dan mental di sore hari dan selanjutnya yang
tertinggal disisa waktu hari itu adalah hal-hal terburuk dalam diri saya. Sedangkan
sore hari itulah suami pulang kerja dan idealnya adalah waktu untuk saling
mendengarkan agar kita bisa terus tumbuh bersama.
Lao Tzu berkata bahwa perjalanan
ribuan mil bermula dari sebuah langkah kecil. Buat saya, membangkitkan “Sense
of achieving” ini adalah langkah kecil dalam perjalanan saya menemukan diri
kembali setelah menjadi ibu. Fase pertama tentunya adalah membangun kembali
keterikatan dengan buku. Novel yang bahasanya cenderung mengalir menjadi jenis
buku yang pertama kali saya lahap. Untungnya, karena sudah lama saya tidak
membaca novel, banyak sekali rekomendasi novel super bagus yang dapat diakses
dengan harga super murah (baca: secondhand). Setelah selama beberapa tahun
beranggapan bahwa membaca novel itu buang-buang waktu sehingga saya lebih
memilih buku yang sifatnya praktis, pada titik itu saya baru menyadari kembali
bagaimana novel membuat saya merasakan kembali petualangan, mengurangi rasa
kesendirian saya dan memperoleh pembelajaran hidup tanpa merasa digurui. Istilahnya
Agni, membaca novel adalah mengaktifkan kembali otak kanan.
Sejujurnya, perjalanan menemukan
kembali diri sendiri setelah menjadi ibu adalah perjalanan yang sepi. Perjalanan
ini tidak ada bedanya dengan perjalanan hidup lainnya, dimana sebagian besar
waktu dijalani seorang diri. Setidaknya begitulah buat saya yang introvert dan
tidak terlalu tahan juga berinterasi terlalu intens.
Saya bersyukur sekali telah memutuskan
untuk terus mencari meskipun dalam gelap, karena jika ketika saat itu saya
memutuskan untuk diam, saya tidak akan pergi kemana-mana. salam satu penemuan saya dalam perjalanan ini,
saya membaca sebuah buku berjudul “Female Brain” karya Louann Brizendine yang
menggambarkan secara tepat kondisi otak saya saat itu. Ternyata, ketika seorang
perempuan hamil, otaknya berubah menjadi otak ibu. Dan perubahan itu
berlangsung selamanya, bahkan jika sang ibu kehilangan janinnya. Dikatakan bahwa
ketika otak perempuan berubah menjadi otak ibu, fokus perhatian beralih pada
mengurus anak dan rumah tangga. lebih lanjut, Louann menyatakan bahwa selama masa menyusui, sirkuit stress ditekan
agar produksi ASI lebih banyak. Pada periode ini, ibu menyusui menjadi lebih
pelupa dan sulit untuk fokus bekerja. Sehingga buat para ibu yang merasakan
sulit membicarakan dan melakukan hal-hal selain hal-hal seputaran anak, tenang
saja. Hal itu sangat lumrah kok. Bahkan Louann dalam bukunya memberikan contoh
kolega professor perempuannya juga mengalami hal yang sama (apalah saya, hanya
remah-remah renggingang jika dibandingkan seorang professor perempuan yang kerap
melatih otaknya bekerja dalam keseharian)
Jika Ruth Gordon mengatakan
bahwa, “Courage is like a muscle, we strengthen in by use”, maka begitu pula
dengan otak kita. Cara mengasah otak kita kembali berfungsi dalam hal-hal
selain seputaran pengasuhan anak adalah dengan terus melatihnya dalam keseharian.
Saya sadar, peran dan tuntutan menjadi
ibu di periode awal sangatlah besar. Bayangkan, hidup mati seorang anak manusia
bergantung pada kita. sifat dan karakternya ketika dewasa bergantung bagaimana
pola asuh orang tua di awal-awal usia pertumbuhan mereka. Wajar jika alam
semesta mengkondisikan seluruh energi, jiwa dan pikiran ibu berkutat dalam
upaya pengasuhan anak. Disisi lain alam juga punya caranya sendiri untuk menciptakan
keseimbangan. Katakanlah kita memposisikan diri kita 90% sebagai seorang ibu. Namun
adapula peran lainnya dalam kehidupan yang kita butuhkan dan membutuhkan kita.
peran istri, anak, menantu, sahabat, kolega adalah beberapa diantaranya. Peran-peran
tersebut juga perlu diakui ada, dipenuhi kebutuhannya dan dirawat secara
berkala. Dalam tataran yang lebih primal, peran lain tersebut bahkan mutlak
dijaga untuk anak itu sendiri. Contohnya, peran menjadi istri tentu mesti dirawat
dengan baik bersama-sama karena kehadiran orang tua secara kualitas dan
kuantitas praktis merupakan kebutuhan dasar anak. hubungan baik antara mertua
dan menantu juga mesti dijaga agar anak memperoleh contoh bagaimana menjalin hubungan
dengan orang yang lebih tua, sedangkan sahabat dan kolega hadir sebagai support
system kita dalam bermasyarakat. Kasarnya, jika kita (seorang ibu) meninggal
terlebih dahulu, ada seperangkat ekosistem yang mampu menopang si anak. Brutally
honest? Yes! Karena itulah saya percaya bahwa kembali menjadi manusia yang utuh
adalah hal yang mutlak perlu dilakukan oleh seorang ibu.
Terima kasih ya Agni yang mengizinkan
saya berproses, belajar dan berkembang. I love you, Agni
PS: Perihal ‘sense of achievement’,
beberapa peneliti menyatakan bahwa merapikan kasur dipagi hari mampu menghadirkan
perasaan tersebut. Ketahuan deh kalau saya tidak memprioritaskan merapihkan Kasur
di pagi hari. ups! Jadi, untuk menghadirkan perasaan tersebut, mungkin gak
perlu juga menaklukan ketakutan seperti yang saya lakukan , tapi cukup dengan
merapikan kasur di pagi hari dan membangun rutinitas pagi yang memacu
produktivitas.
Bandung, 8 Juli 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar