Minggu, 08 Juli 2018

My Sense of Achievement






Mei 2017, tepat ketika selesai menyapih Aze saya merasakan banyak ketakutan. Bahkan saat itu saya tidak berani membaca buku, karena takut otak saya nggak nyampe untuk memahami buku itu. Seperti ada kabut tebal dikepala saya. Sepertinya saya hanya terlatih untuk memikirkan makan anak, konsistensi poop, permainan edukasi anak dan hal-hal lain yang berpusat pada anak. Selama kehamilan hingga Aze berusia dua tahun, buku-buku yang saya baca adalah perihal bagaimana mengurus kesehatan, nutrisi dan tumbuh kembang anak. dan itupun belum semua saya baca, tahu-tahu buku yang ada sudah gak sesuai dengan rentang usia Aze.

Saat itu saya jelas merasa kehilangan diri saya. Saya, yang ketika kuliah bercita-cita menjadi kurator, kini menyelesaikan membaca sebuah buku saja kok gak yakin? Itu merupakan pukulan yang berat buat saya. Akhirnya saya mulai memberanikan diri kembali untuk membaca buku. Pastinya bukan novel-novel penerima nobel sastra yang intimidatif. Setelah saya menimbang-nimbang buku pertama apa yang mau saya baca, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membaca buku Anthony Capella yang berjudul “The Various Flavours of Coffee”. Mengapa saya memilih buku ini? Sebagai pecinta kopi, tema ini tentunya sangat menjual. Selain karena suka dengan desain sampul novel ini, ketebalan dari buku inipun merepresentasikan dua harapan buat saya. Pertama, mestinya buku setebal ini gak akan jelek-jelek amat. Minimal banget padat dengan hasil riset setting, suasana dan sejarah dari sana sini lah. Kedua, ini merupakan cara saya menantang diri saya untuk menamatkan sebuah buku novel yang panjang.

Untunglah saya memutuskan untuk membaca buku ini. Karena asumsi pertama saya terbukti benar, setidaknya dari buku ini saya bisa mengetahui bagaimana kopi dan pertumbuhan kedai kopi mampu membangkitkan budaya berdiskusi sehingga mempercepat terjadinya revolusi pemikiran di Inggris (tentu banyak poin menarik lainnya yang hadir dari buku ini, tapi agaknya akan butuh ada di bahasan berbeda). Poin selanjutnya yang paling penting buat saya adalah “The sense of achieving something”. Perasaan bahwa saya ternyata masih mampu loh menamatkan sebuah buku, dan lebih jauh, bahwa saya mampu melakukan hal-hal lain yang dulu saya lakukan sebelum menjadi ibu, bukan hanya berkutat melakukan hal teknis mengurus rumah tangga kemudian menjadi terlalu lelah secara fisik dan mental di sore hari dan selanjutnya yang tertinggal disisa waktu hari itu adalah hal-hal terburuk dalam diri saya. Sedangkan sore hari itulah suami pulang kerja dan idealnya adalah waktu untuk saling mendengarkan agar kita bisa terus tumbuh bersama.

Lao Tzu berkata bahwa perjalanan ribuan mil bermula dari sebuah langkah kecil. Buat saya, membangkitkan “Sense of achieving” ini adalah langkah kecil dalam perjalanan saya menemukan diri kembali setelah menjadi ibu. Fase pertama tentunya adalah membangun kembali keterikatan dengan buku. Novel yang bahasanya cenderung mengalir menjadi jenis buku yang pertama kali saya lahap. Untungnya, karena sudah lama saya tidak membaca novel, banyak sekali rekomendasi novel super bagus yang dapat diakses dengan harga super murah (baca: secondhand). Setelah selama beberapa tahun beranggapan bahwa membaca novel itu buang-buang waktu sehingga saya lebih memilih buku yang sifatnya praktis, pada titik itu saya baru menyadari kembali bagaimana novel membuat saya merasakan kembali petualangan, mengurangi rasa kesendirian saya dan memperoleh pembelajaran hidup tanpa merasa digurui. Istilahnya Agni, membaca novel adalah mengaktifkan kembali otak kanan.

Sejujurnya, perjalanan menemukan kembali diri sendiri setelah menjadi ibu adalah perjalanan yang sepi. Perjalanan ini tidak ada bedanya dengan perjalanan hidup lainnya, dimana sebagian besar waktu dijalani seorang diri. Setidaknya begitulah buat saya yang introvert dan tidak terlalu tahan juga berinterasi terlalu intens.

Saya bersyukur sekali telah memutuskan untuk terus mencari meskipun dalam gelap, karena jika ketika saat itu saya memutuskan untuk diam, saya tidak akan pergi kemana-mana. salam satu penemuan saya dalam perjalanan ini, saya membaca sebuah buku berjudul “Female Brain” karya Louann Brizendine yang menggambarkan secara tepat kondisi otak saya saat itu. Ternyata, ketika seorang perempuan hamil, otaknya berubah menjadi otak ibu. Dan perubahan itu berlangsung selamanya, bahkan jika sang ibu kehilangan janinnya. Dikatakan bahwa ketika otak perempuan berubah menjadi otak ibu, fokus perhatian beralih pada mengurus anak dan rumah tangga. lebih lanjut, Louann menyatakan bahwa selama masa menyusui, sirkuit stress ditekan agar produksi ASI lebih banyak. Pada periode ini, ibu menyusui menjadi lebih pelupa dan sulit untuk fokus bekerja. Sehingga buat para ibu yang merasakan sulit membicarakan dan melakukan hal-hal selain hal-hal seputaran anak, tenang saja. Hal itu sangat lumrah kok. Bahkan Louann dalam bukunya memberikan contoh kolega professor perempuannya juga mengalami hal yang sama (apalah saya, hanya remah-remah renggingang jika dibandingkan seorang professor perempuan yang kerap melatih otaknya bekerja dalam keseharian) 

Jika Ruth Gordon mengatakan bahwa, “Courage is like a muscle, we strengthen in by use”, maka begitu pula dengan otak kita. Cara mengasah otak kita kembali berfungsi dalam hal-hal selain seputaran pengasuhan anak adalah dengan terus melatihnya dalam keseharian.

Saya sadar, peran dan tuntutan menjadi ibu di periode awal sangatlah besar. Bayangkan, hidup mati seorang anak manusia bergantung pada kita. sifat dan karakternya ketika dewasa bergantung bagaimana pola asuh orang tua di awal-awal usia pertumbuhan mereka. Wajar jika alam semesta mengkondisikan seluruh energi, jiwa dan pikiran ibu berkutat dalam upaya pengasuhan anak. Disisi lain alam juga punya caranya sendiri untuk menciptakan keseimbangan. Katakanlah kita memposisikan diri kita 90% sebagai seorang ibu. Namun adapula peran lainnya dalam kehidupan yang kita butuhkan dan membutuhkan kita. peran istri, anak, menantu, sahabat, kolega adalah beberapa diantaranya. Peran-peran tersebut juga perlu diakui ada, dipenuhi kebutuhannya dan dirawat secara berkala. Dalam tataran yang lebih primal, peran lain tersebut bahkan mutlak dijaga untuk anak itu sendiri. Contohnya, peran menjadi istri tentu mesti dirawat dengan baik bersama-sama karena kehadiran orang tua secara kualitas dan kuantitas praktis merupakan kebutuhan dasar anak. hubungan baik antara mertua dan menantu juga mesti dijaga agar anak memperoleh contoh bagaimana menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua, sedangkan sahabat dan kolega hadir sebagai support system kita dalam bermasyarakat. Kasarnya, jika kita (seorang ibu) meninggal terlebih dahulu, ada seperangkat ekosistem yang mampu menopang si anak. Brutally honest? Yes! Karena itulah saya percaya bahwa kembali menjadi manusia yang utuh adalah hal yang mutlak perlu dilakukan oleh seorang ibu.

Terima kasih ya Agni yang mengizinkan saya berproses, belajar dan berkembang. I love you, Agni

PS: Perihal ‘sense of achievement’, beberapa peneliti menyatakan bahwa merapikan kasur dipagi hari mampu menghadirkan perasaan tersebut. Ketahuan deh kalau saya tidak memprioritaskan merapihkan Kasur di pagi hari. ups! Jadi, untuk menghadirkan perasaan tersebut, mungkin gak perlu juga menaklukan ketakutan seperti yang saya lakukan , tapi cukup dengan merapikan kasur di pagi hari dan membangun rutinitas pagi yang memacu produktivitas.



Bandung, 8 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar