Kamis, 12 Juli 2018

I’m Healing; I’m Rediscovering Myself; I’m Starting Over

http://ceritaperempuan.id/2018/07/im-healing-im-rediscovering-myself-im-starting-over/

I’m Healing; I’m Rediscovering Myself; I’m Starting Over



“Whether you are working mom, stay at home mom or work at home mom, you will end up working. Most of the time is in a very exhausted way.”
Saya percaya pilihan menjadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja sangat erat kaitannya dengan pengalaman masa kecil serta bagaimana kita melihat pengalaman itu. Ada seorang teman yang bercerita kalau dia ingin sekali menjadi ibu bekerja ketika besar, karena masa kecilnya dipenuhi dengan imaji seorang ibu yang sudah wangi dan cantik pada pagi hari, serta di sisi lain mampu menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga setiap hari. Untuk dia, ibunya seorang super mom banget. Sedangkan saya yang memiliki pengalaman berbeda, ketika mendengar itu saya berpikir:

“Bagaimana mungkin saya bisa bekerja dan memiliki anak, jika ibu saya yang full IRT saja sudah memberikan begitu banyak luka? Jika sering kali yang ibu keluhkan adalah bahwa dia capek mengurus saya?”

Ibu saya adalah ibu rumah tangga dengan empat anak. Saya adalah anak paling bungsu yang berjarak delapan tahun dengan kakak nomor tiga. Saat saya kecil, kata-kata yang sering diucapkan oleh ibu adalah “anak jangan dimanja, nanti nunjak”. Sayangnya, itu menjadi alasan baginya untuk melakukan verbal and physical abuse setiap hari. Hal itu membuat saya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan dan tidak dicintai. Saya tumbuh menjadi pribadi yang socially awkward dan berulang kali mengalami masalah dalam pergaulan sosial, karena saya tidak memiliki referensi bagaimana cara bersosialisasi yang baik dengan orang lain. Saat itu, tidak ada kehadiran tempat yang mampu memberikan perasaan nyaman dan diterima. Masa kecil saya pun diisi dengan harapan untuk meninggalkan rumah ketika dewasa.

Ketika kuliah strata satu, saya memperoleh tugas untuk membahas sebuah iklan. Saya menemukan sebuah iklan tentang kekerasan pada anak dalam rumah tangga. Iklan itu membuat saya melihat kembali diri saya yang ketakutan, kesepian, dan rasa tidak diterima saat kecil. Hal inilah yang kemudian membuat saya takut untuk memiliki anak, karena saya takut akan mewariskan luka batin dan merusak anak saya seperti yang telah dilakukan ibu. Dalam hidup saya, saya hanya memiliki satu ibu. Bisakah saya menjadi ibu yang lain, jika hanya ada satu referensi bagi saya?




Semakin dewasa, pikiran menjadi seorang ibu adalah momok yang menakutkan.

Ketika saya menjadi ibu, saya berusaha membekali diri saya dengan berbagai buku parenting. Kalau ada yang bilang,life doesn’t come with a manual, it comes with a mother”, saya berusaha menolak hal tersebut. Pengalaman saya mengajarkan bahwa ibu bukan “safe place” untuk saya. Buku-buku itulah yang saya harapkan mampu menjadi “safe place” yang mampu melindungi anak saya dari saya.Nyatanya, buku-buku tersebut kerap bertentangan satu sama lain atau terlalu men-generalisasi segala sesuatu. Saya malah melihat ada hal-hal yang menyakiti hati para ibu muda yang berjibaku dengan persoalan-personalnya.
Ada seorang pakar ilmu pengasuhan anak yang sangat saklek bahwa seorang ibu harus mengurus anaknya hingga kurun waktu tertentu, anak baru boleh sekolah lima tahun ke atas, dst…dst. Saya sadar hal ini sejalan dengan ilmu psikologi dan tumbuh kembang anak serta selaras dengan ajaran agama yang saya anut, tapi toh dunia tidak sehitam putih itu. Dan ketika hal tersebut tercetak hitam di atas putih, yang seringnya muncul adalah penghakiman antara para ibu.
Saya pun mempertanyakan banyak hal dan berusaha melihatnya dari perspektif lain. Misalnya, keharusan bahwa anak mesti sekolah di atas lima tahun agar ikatan dengan orang tua terjalin sempurna. Bagaimana jika keluarga tersebut tinggal di area yang tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk bermain bagi anak? Dan, pada akhirnya anak diasuh dengan gadget karena ketiadaan fasilitas tersebut dan sibuknya ibu mengurus rumah tangga?
Apakah kesaklekan tersebut tetap relevan?

Belum lagi tentang ibu yang diharuskan mengurus anak hingga usia tujuh tahun. Akankah hal itu menciptakan perasaan bersalah bagi para ibu bekerja? Padahal, yang menurut saya, menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah kemewahan yang tak semua perempuan bisa akses. Bagaimana kalau suaminya meninggal atau mereka bercerai? Bagaimana kalau mereka berada dalam sandwich generation yang diamanahkan orang tua yang sakit-sakitan dan adik-adik yang belum selesai sekolah? Atau… kembali ke apa yang saya sempat tuturkan. Bagaimana jika sang ibu memiliki imaji indah pada masa kecilnya tentang ibu yang bekerja dan ketika besar ingin menjadi ibu pekerja?
Pertanyaan-pertanyaan itu seolah tak ada hentinya bergumul dalam diri saya.
Awalnya saya memilih menjadi ibu rumah tangga karena saya ingin memutus rantai trauma ke anak saya. Nyatanya, hal itu memberikan tekanan emosional yang besar bagi saya. Pada satu titik, saya sadar bahwa poinnya bukan memutus rantai trauma, tapi secara tahap demi tahap mengurangi kadar trauma itu sendiri. Misalnya, jika luka batin masa kecil saya berada di nomor delapan, saya berharap anak saya bisa di titik tiga saja atau bahkan kurang (amiiin pakai banget).
Dalam kasus saya, saya sangat takut untuk bekerja dari rumah karena bekerja artinya energi ekstra, dan energi ekstra berarti kelelahan ekstra sehingga mengeluarkan sisi “mama monster” dalam diri saya. Sebelumnya,saya beberapa kali mencoba untuk bekerja. Saya malah mengalami kelelahan secara fisik dan mental yang luar biasa; sehingga, tidak memiliki cukup kewarasan untuk mengurus seorang anak kecil yang masih dalam tahap perkembangan.
Setelah berdiskusi dengan beberapa teman dan membaca beberapa buku, saya pun menyadari bahwa yang paling penting adalah manajemen waktu dan harapan. Bagaimana dalam satu hari saya bisa bangun lebih pagi dibanding anak dan suami, sehingga saya mampu menyelesaikan beberapa hal. Melalui proses ini, saya juga menyadari bahwa waktu pagi adalah waktu paling produktif bagi saya. Setelah melakukan beberapa rutinitas pagi, saya bisa fokus bekerja hingga satu jam.Namun, tetap saja sebagai seorang ibu dengan anak berusia tiga tahun, anak adalah pertama dan utama. Hal-hal seperti anak sakit, tidak nafsu makan, menolak tidur siang, dan sejuta tantangan lainnya tentu merupakan hal-hal yang tidak terelakkan. Oleh sebab itu, saya harus mengatur harapan saya (manajemen harapan).
“What would you do if you weren’t afraid?” – Sheryl Sandberg
Beberapa waktu lalu, saya berjumpa dengan pertanyaan ini. Saya pun jadi berpikir, “Apa ya yang akan saya lakukan bila saya tidak memiliki ketakutan bahwa saya suatu hari bisa mewariskan luka batin ini? Akan menjadi ibu seperti apakah saya?”
Dan pada saat itulah, saya berterima kasih kepada luka batin yang ada;berterima kasih kepada ibu saya.
Karena, jika tidak, mungkin saya akan menjadi ibu yang “take everything for granted”. Saya tidak akan menyempatkan diri membaca berbagai macam buku bagaimana cara menjadi orang tua, buku tentang nutrisi, perkembangan, kesehatan,dan cara berkomunikasi dengan anak. Jika tanpa luka itu, mungkin saya akan mengambil jalan yang lain.
Dan, di antara semua pilihan yang telah saya ambil, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu pilihan terbaik yang saya syukuri.
Saya percaya bahwa pilihan ibu rumah tangga, ibu pekerja, atau ibu rumah tangga yang bekerja di rumah adalah pilihan yang sangat personal. Sebagian besar pilihan tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman seseorang dan bagaimana dia melihat pengalaman tersebut. Semua pilihan memiliki kelebihan dan harga yang mesti dibayar.
Maka, apapun pilihannya, yang penting adalah ibu menjadi sosok yang bahagia. Ibu  yang bahagia mampu menghadirkan generasi penerus yang sehat mental dan suami yang bahagia juga. Sehingga, untuk para ibu, penting sekali belajar untuk membahagiakan diri sendiri.
Belajar untuk berdialog dengan diri sendiri.
Belajar untuk mencari pertolongan.
Belajar untuk menyembuhkan luka batin.
Belajar untuk bersyukur (terlebih di antara imaji kesempurnaan yang ditawarkansosial media).
Belajar untuk lebih menyayangi diri sendiri.
Belajar untuk tidak menghakimi sesama ibu; setiap ibu memiliki tantangannya masing-masing.
Belajar untuk membuka diri dengan orang lain dan membangun support system bersama para ibu lain sehingga kita tidak merasa sendirian; salah satunya, dengan menghadirkan pembicaraan-pembicaraan jujur karena yang saya rasakan adalah, kehidupan menjadi ibu merupakan kehidupan yang sepi.

Yuk, mari kita saling merawat luka dan hadir menopang satu sama lain.
Bandung, 8-26 Juni 2018
Nur Aini
P.S. Tulisan ini adalah salah satu perjalanan hati saya untuk memaafkan ibu dan diri saya. Sebuah proses yang pelan-pelan menggeser pola pikir dari “I’m damaged, I’m broken” menjadi “I’m healing, I’m rediscovering myself, I’m starting over”.

Penulis: Nur Aini
Editor : Ala

Minggu, 08 Juli 2018

My Sense of Achievement






Mei 2017, tepat ketika selesai menyapih Aze saya merasakan banyak ketakutan. Bahkan saat itu saya tidak berani membaca buku, karena takut otak saya nggak nyampe untuk memahami buku itu. Seperti ada kabut tebal dikepala saya. Sepertinya saya hanya terlatih untuk memikirkan makan anak, konsistensi poop, permainan edukasi anak dan hal-hal lain yang berpusat pada anak. Selama kehamilan hingga Aze berusia dua tahun, buku-buku yang saya baca adalah perihal bagaimana mengurus kesehatan, nutrisi dan tumbuh kembang anak. dan itupun belum semua saya baca, tahu-tahu buku yang ada sudah gak sesuai dengan rentang usia Aze.

Saat itu saya jelas merasa kehilangan diri saya. Saya, yang ketika kuliah bercita-cita menjadi kurator, kini menyelesaikan membaca sebuah buku saja kok gak yakin? Itu merupakan pukulan yang berat buat saya. Akhirnya saya mulai memberanikan diri kembali untuk membaca buku. Pastinya bukan novel-novel penerima nobel sastra yang intimidatif. Setelah saya menimbang-nimbang buku pertama apa yang mau saya baca, akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membaca buku Anthony Capella yang berjudul “The Various Flavours of Coffee”. Mengapa saya memilih buku ini? Sebagai pecinta kopi, tema ini tentunya sangat menjual. Selain karena suka dengan desain sampul novel ini, ketebalan dari buku inipun merepresentasikan dua harapan buat saya. Pertama, mestinya buku setebal ini gak akan jelek-jelek amat. Minimal banget padat dengan hasil riset setting, suasana dan sejarah dari sana sini lah. Kedua, ini merupakan cara saya menantang diri saya untuk menamatkan sebuah buku novel yang panjang.

Untunglah saya memutuskan untuk membaca buku ini. Karena asumsi pertama saya terbukti benar, setidaknya dari buku ini saya bisa mengetahui bagaimana kopi dan pertumbuhan kedai kopi mampu membangkitkan budaya berdiskusi sehingga mempercepat terjadinya revolusi pemikiran di Inggris (tentu banyak poin menarik lainnya yang hadir dari buku ini, tapi agaknya akan butuh ada di bahasan berbeda). Poin selanjutnya yang paling penting buat saya adalah “The sense of achieving something”. Perasaan bahwa saya ternyata masih mampu loh menamatkan sebuah buku, dan lebih jauh, bahwa saya mampu melakukan hal-hal lain yang dulu saya lakukan sebelum menjadi ibu, bukan hanya berkutat melakukan hal teknis mengurus rumah tangga kemudian menjadi terlalu lelah secara fisik dan mental di sore hari dan selanjutnya yang tertinggal disisa waktu hari itu adalah hal-hal terburuk dalam diri saya. Sedangkan sore hari itulah suami pulang kerja dan idealnya adalah waktu untuk saling mendengarkan agar kita bisa terus tumbuh bersama.

Lao Tzu berkata bahwa perjalanan ribuan mil bermula dari sebuah langkah kecil. Buat saya, membangkitkan “Sense of achieving” ini adalah langkah kecil dalam perjalanan saya menemukan diri kembali setelah menjadi ibu. Fase pertama tentunya adalah membangun kembali keterikatan dengan buku. Novel yang bahasanya cenderung mengalir menjadi jenis buku yang pertama kali saya lahap. Untungnya, karena sudah lama saya tidak membaca novel, banyak sekali rekomendasi novel super bagus yang dapat diakses dengan harga super murah (baca: secondhand). Setelah selama beberapa tahun beranggapan bahwa membaca novel itu buang-buang waktu sehingga saya lebih memilih buku yang sifatnya praktis, pada titik itu saya baru menyadari kembali bagaimana novel membuat saya merasakan kembali petualangan, mengurangi rasa kesendirian saya dan memperoleh pembelajaran hidup tanpa merasa digurui. Istilahnya Agni, membaca novel adalah mengaktifkan kembali otak kanan.

Sejujurnya, perjalanan menemukan kembali diri sendiri setelah menjadi ibu adalah perjalanan yang sepi. Perjalanan ini tidak ada bedanya dengan perjalanan hidup lainnya, dimana sebagian besar waktu dijalani seorang diri. Setidaknya begitulah buat saya yang introvert dan tidak terlalu tahan juga berinterasi terlalu intens.

Saya bersyukur sekali telah memutuskan untuk terus mencari meskipun dalam gelap, karena jika ketika saat itu saya memutuskan untuk diam, saya tidak akan pergi kemana-mana. salam satu penemuan saya dalam perjalanan ini, saya membaca sebuah buku berjudul “Female Brain” karya Louann Brizendine yang menggambarkan secara tepat kondisi otak saya saat itu. Ternyata, ketika seorang perempuan hamil, otaknya berubah menjadi otak ibu. Dan perubahan itu berlangsung selamanya, bahkan jika sang ibu kehilangan janinnya. Dikatakan bahwa ketika otak perempuan berubah menjadi otak ibu, fokus perhatian beralih pada mengurus anak dan rumah tangga. lebih lanjut, Louann menyatakan bahwa selama masa menyusui, sirkuit stress ditekan agar produksi ASI lebih banyak. Pada periode ini, ibu menyusui menjadi lebih pelupa dan sulit untuk fokus bekerja. Sehingga buat para ibu yang merasakan sulit membicarakan dan melakukan hal-hal selain hal-hal seputaran anak, tenang saja. Hal itu sangat lumrah kok. Bahkan Louann dalam bukunya memberikan contoh kolega professor perempuannya juga mengalami hal yang sama (apalah saya, hanya remah-remah renggingang jika dibandingkan seorang professor perempuan yang kerap melatih otaknya bekerja dalam keseharian) 

Jika Ruth Gordon mengatakan bahwa, “Courage is like a muscle, we strengthen in by use”, maka begitu pula dengan otak kita. Cara mengasah otak kita kembali berfungsi dalam hal-hal selain seputaran pengasuhan anak adalah dengan terus melatihnya dalam keseharian.

Saya sadar, peran dan tuntutan menjadi ibu di periode awal sangatlah besar. Bayangkan, hidup mati seorang anak manusia bergantung pada kita. sifat dan karakternya ketika dewasa bergantung bagaimana pola asuh orang tua di awal-awal usia pertumbuhan mereka. Wajar jika alam semesta mengkondisikan seluruh energi, jiwa dan pikiran ibu berkutat dalam upaya pengasuhan anak. Disisi lain alam juga punya caranya sendiri untuk menciptakan keseimbangan. Katakanlah kita memposisikan diri kita 90% sebagai seorang ibu. Namun adapula peran lainnya dalam kehidupan yang kita butuhkan dan membutuhkan kita. peran istri, anak, menantu, sahabat, kolega adalah beberapa diantaranya. Peran-peran tersebut juga perlu diakui ada, dipenuhi kebutuhannya dan dirawat secara berkala. Dalam tataran yang lebih primal, peran lain tersebut bahkan mutlak dijaga untuk anak itu sendiri. Contohnya, peran menjadi istri tentu mesti dirawat dengan baik bersama-sama karena kehadiran orang tua secara kualitas dan kuantitas praktis merupakan kebutuhan dasar anak. hubungan baik antara mertua dan menantu juga mesti dijaga agar anak memperoleh contoh bagaimana menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua, sedangkan sahabat dan kolega hadir sebagai support system kita dalam bermasyarakat. Kasarnya, jika kita (seorang ibu) meninggal terlebih dahulu, ada seperangkat ekosistem yang mampu menopang si anak. Brutally honest? Yes! Karena itulah saya percaya bahwa kembali menjadi manusia yang utuh adalah hal yang mutlak perlu dilakukan oleh seorang ibu.

Terima kasih ya Agni yang mengizinkan saya berproses, belajar dan berkembang. I love you, Agni

PS: Perihal ‘sense of achievement’, beberapa peneliti menyatakan bahwa merapikan kasur dipagi hari mampu menghadirkan perasaan tersebut. Ketahuan deh kalau saya tidak memprioritaskan merapihkan Kasur di pagi hari. ups! Jadi, untuk menghadirkan perasaan tersebut, mungkin gak perlu juga menaklukan ketakutan seperti yang saya lakukan , tapi cukup dengan merapikan kasur di pagi hari dan membangun rutinitas pagi yang memacu produktivitas.



Bandung, 8 Juli 2018 

Kamis, 05 Juli 2018

Proses kehilangan dan menemukan diri kembali setelah menjadi Ibu

“Selama ini kemana sih? Mana karya-karya barunya mbak?”

Itulah pertanyaan beberapa teman Naini melalui DM dan WA.
Jawabannya adalah, gak kemana-mana. Hanya tenggelam dalam rutinitas Ibu Rumah Tangga yang setiap harinya berjibaku mengurus anak semata wayang.

Lalu, untuk Naini Designnya bagaimana?

Sebuah kenyataan beberapa tahun terakhir ini sejak hamil dan memiliki anak, saya menjadi tidak jatuh cinta lagi dengan apa yang saya lakukan di Naini. Mengapa? Karena menurut saya, cinta itu dirawat setiap hari. Sedangkan beberapa waktu lalu saya bahkan kesulitan untuk fokus mengerjakan suatu hal karena di sore harinya, energi saya tampak sudah habis. Kenyataan bahwa saya sulit sekali meluangkan waktu sejam dua jam fokus mengerjakan Naini membuat sayapun merasa semakin kecil hati dan berjarak dengan Naini itu sendiri.

Ibaratnya orang pacaran, ini adalah LDR yang jarang sekali berkomunikasi baik melalui skype atau WA. Sehingga ketika beberapa kali mencoba ‘ngobrol’, yang ada hanyalah kesalah pahaman dan perasaan tidak berdaya karena banyak sekali yang mesti dilakukan.

Dalam upaya mendefinisikan diri kembali dan menyusun ulang skala prioritas setelah menjadi ibu dari seorang anak manusia, saya menemukan quotes yang cukup lama mengendap dalam pikiran saya dan perlahan-lahan memberikan keberanian untuk mengurai benang kusut tersebut

“The secret of getting ahead is getting started. The secret of getting started is breaking your complex overwhelming tasks into small manageable tasks and starting on the first one.”
― Mark Twain

Maka pelan-pelanlah saya berkarya kembali. Memulai sesuatu dengan langkah-langkah kecil. Mengumpulkan beberapa koleksi terbaru, meminta bantuan kolega untuk menjadi talent serta memfokuskan pada custom-order. Mengapa custom-order? Karena ternyata, ketika saya memproduksi sesuai pesanan, fokusnya bisa lebih diarahkan dalam eksplorasi karya. Sayapun baru menyadari bahwa hal yang paling saya nikmati dari proses berkarya di Naini selama ini adalah ketika saya bisa bereksplorasi dan bisa belajar banyak hal baru setiap harinya.

Dahulu ketika saya masih mahasiswa, salah satu dosen perhiasan kesayangan saya menyatakan bahwa dia memilih untuk membuat usahanya kecil dan tetap kecil. Kala itu, saya benar-benar tidak mengerti. Bukankah sebuah bisnis bertujuan untuk menjadi besar dan semakin besar? Ternyata jawabannya adalah skala prioritas dan upaya untuk menjaga kualitas.

Skala prioritas, karena dia dan saya tidak hanya seorang designer accessories, namun juga seorang ibu dan istri dalam lingkup terkecil. Sedangkan upaya menjaga kualitas adalah karena dengan cara seperti itulah saya memiliki bensin energi untuk terus berkarya.

Pada masa ini, prioritas saya adalah menjadi ibu dari seorang anak manusia berusia tiga tahun dengan tetap berupaya menjaga semangat berkarya melalui dialog rutin tiap hari dengan Naini Design. Toh waktu tidak akan datang kembali, dan mendampingi anak saya merupakan sebuah kemewahan yang saya pilih. Semoga dengan berjalannya waktu, kuantitas dan kualitas waktu yang bisa dialokasikan untuk Naini akan menjadi semakin besar.

Terima kasih banyak untuk para teman-teman Naini design yang masih memberikan apresiasi positif hingga sekarang ini. Ketika saya berada di titik terendah dan meragukan diri saya, apresiasi itu benar-benar merupakan afirmasi positif yang saya perlukan. Mohon maaf juga yang sebesar-besarnya kepada pelanggan Naini yang pernah merasa kecewa dengan pelayanan kami. Itu semata-mata karena ketidak mampuan saya membagi waktu dalam mengurus beberapa hal sekaligus.

PS: Ketika membuat tulisan ini, saya dikejutkan dengan berita bunuh diri Kate Spade. Berita sedih ini membuat saya semakin yakin pentingnya berdialog jujur dengan diri sendiri dan menentukan skala prioritas berdasarkan value-value personal tiap individu. Mari belajar untuk selalu menyeimbangkan hidup, meskipun tentunya tidak akan ada yang sempurna. Dan tolong, buat teman-teman lain yang merasa sedih, berada di titik terendah atau bahkan depresi, carilah pertolongan. Jangan lupa untuk medengarkan kata hati. Di Bandung sendiri ada beberapa komunitas yang membantu proses self-healing dan mau menyediakan telinga untuk mendengarkan, salah satunya adalah @lifescapewithus. Saya pribadi, sangat terbantu berpikir lebih jernih ketika berinteraksi dengan @ceritaperempuan.